loader

Visit

[Virtual Office] Office 8 Building, Level 18A. Jalan Jenderal Sudirman 52-53. Jakarta 12190. Indonesia

The Climate Realty Project Light Logo
Eco-anxiety dan Aksi Kaum Muda untuk Bumi
10 August

Eco-anxiety dan Aksi Kaum Muda untuk Bumi

Oleh: Swary Utami Dewi
(Anggota TP3PS, Pendiri NARA dan KBCF, Climate Leader Indonesia)

Pada 20 Juli 2022, aku menyimak acara tahunan penganugerahan Kalpataru yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ada dua sosok muda yang menyedot perhatianku. Pertama Rudi Hartono, kelahiran 1995, yang memenangkan kategori perintis. Rudi, yang berdarah Sulawesi ini, menggerakkan warga sekitar Sungai Kupah untuk cinta lingkungan, khususnya mangrove, yang ada di pesisir kampungnya. Akhirnya dia berhasil mendorong berdirinya Ekowisata Telok Berdiri di Sungai Kupah, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Sementara Amalia Rezeki, yang lahir 1988, bersama sesama pecinta satwa dan lingkungan menggerakkan komunitas “Sahabat Bekantan Indonesia” di Kalimantan Selatan. Bekantan, yang juga kerap disebut monyet berhidung panjang, merupakan salah satu satwa endemik Kalimantan yang terancam punah. Padahal satwa berperut buncit dan berambut merah kecoklatan ini merupakan satu-satunya primata di dunia yang mampu berenang dengan baik. Di telapak kaki dan tangan bekantan ada selaput kulit (web) seperti katak, yang memudahkan hewan herbivora ini berenang menyeberangi sungai. Kemampuan mobilitas bekantan yang tidak hanya mampu menjelajah pohon di hutan tapi juga mengarungi sungai, membuat binatang ini merupakan penyebar bibit tumbuhan yang baik.

Habitat bekantan sendiri di ekosistem lahan basah, yakni hutan mangrove, hutan riparian dan hutan rawa (baik rawa air tawar maupun gambut). Karena itu upaya penyelamatan bekantan erat kaitannya dengan menjaga ekosistem lahan basah tersebut. Amalia dan kawan-kawan di komunitasnya telah berupaya selama 10 tahun untuk menyelamatkan bekantan. Tepat kiranya jika dia menggondol Kalpataru untuk kategori penyelamat.

Apa yang dilakukan oleh Amalia dan Rudi, bagi mereka yang memiliki perhatian terhadap isu perubahan iklim, bahkan krisis iklim, bisa jadi bermula dari perasaan khawatir melihat potensi kerusakan atau kepunahan. Bisa jadi juga berawal dari melihat apa yang ada di sekitar mereka, lalu merasa “terganggu”. Inilah yang secara sederhana disebut sebagai eco-anxiety. Ada yang mengartikan ini sebagai ketakutan kronis akan kehancuran lingkungan. Namun ada yang lebih moderat melihat ini sebagai bentuk kekhawatiran akan rusaknya lingkungan dan alam. Meski beberapa literatur, menunjukkan bahwa kajian tentang kecemasan ekologis ini dilakukan intensif sejak 2007, namun fenomena ini seakan tertutup oleh berbagai isu lain. Sejalan dengan makin dirasakannya dampak perubahan iklim, yang bahkan sudah menjadi krisis iklim, juga adanya perkembangan informasi teknologi (IT) yang memudahkan banyak orang, utamanya kaum muda yang melek IT, untuk mengakses informasi dan pengetahuan, istilah eco-anxiety bergaung kembali. Meski banyak yang tidak langsung menggunakan istilah tersebut, namun kepedulian terhadap lingkungan dan alam rata-rata bermula dari kekhawatiran akan nasib bumi beserta isinya, yang sudah dan sedang didera krisis iklim.

Sejauh mana kekhawatiran ini lalu ditransformasikan menjadi aksi nyata penyelamatan bumi? Jika ditanya secara kuantitatif tidak mudah menjawabnya. Namun faktanya, aksi ini nyata ada di mana-mana dalam berbagai bentuk yang mampu dilakukan masing-masing. Salah satu yang banyak mengambil peran di sini adalah kaum muda, yang dengan kesadarannya bahwa bumi ini perlu diselamatkan lalu mempergunakan kecanggihan IT serta mengadakan aksi sesuai kreativitas masing-masing. Rudi Hartono dan Amalia Rezeki merupakan contoh nyata yang memutuskan berbuat banyak untuk bumi.

Contoh lain adalah upaya yang dilakukan komunitas internasional, the Climate Reality Project, termasuk yang ada di Indonesia, untuk menggaungkan berbagai aksi nyata, dengan istilah act of leadership. Kesadaran bahwa bumi merupakan urusan kini dan nanti memang memerlukan pemahaman dan dukungan kaum muda sejak kini. Pemilik masa depan ini harus bisa menyadari bahwa aktivitas dan gaya hidup manusia yang keliru, yang telah membuat bumi semakin panas, perlu diubah. Berbagai bentuk advokasi oleh kaum muda karenanya dilakukan untuk penyadaran dan penggalangan aksi langsung, misalnya dalam bentuk pelatihan, kemping pemuda, menanam pohon, kampanye melalui webinar dan media sosial, serta menyelenggarakan kelas Youth Leadership on Climate Crisis. Pegiat Climate Reality Indonesia sendiri memang banyak yang berusia muda, bahkan masih belasan tahun. Namun mereka telah menjadi agen penggerak perubahan dan penumbuh kesadaran. Ini sekaligus contoh nyata untuk memperlihatkan bagaimana eco-anxiety, yang dikelola secara positif dan digerakkan secara bersama, mampu bertransformasi menjadi energi penggerak untuk penyelamatan bumi dan isinya. Rudi, Amalia dan kaum muda di Climate Reality Indonesia, serta ribuan pemuda lainnya, telah terbukti menjadi harapan masa kini dan masa depan bagi kita semua.

  • Tags:



    Categories

    Tags

    Latest Post

    Climate Education Game Day
    31 May

    Climate Education Game Day

    Oleh: Jonathan Putra & Nadia Amanda Intern Climate Reality Indonesia Krisis iklim telah menjadi salah satu isu paling mendesak di abad ini. Dampaknya terasa di seluruh dunia, dari cuaca yang tidak menentu hingga bencana alam yang semakin sering terjadi. Dalam menghadapi tantangan ini, pendidikan tentang lingkungan dan perubahan iklim menjadi kunci penting untuk membangun kesadaran dan tindakan yang diperlukan untuk…
    Read More
    The Hubris of Power: Unveiling Patriarchy, Environmental Challenges, and Political Dysfunction in Contemporary Indonesian Politics
    30 April

    The Hubris of Power: Unveiling Patriarchy, Environmental Challenges, and Political Dysfunction in Contemporary Indonesian Politics

    By: Muhammad Adzkia Farirahman There is nothing more tragic than the hubris of men in politics. Even today, Indonesia is widely considered a patriarchal society. This is evident in the public discourse surrounding the 7th president of the Republic. The 62-year-old male is celebrated as a 'Father Figure' of the nation, harking back to feudal times when Indonesia had yet…
    Read More
    Konferensi Tahunan “Let’s Do It! Asia 2024 Penang” untuk Gerakan #TheWorldWeWant
    30 April

    Konferensi Tahunan “Let’s Do It! Asia 2024 Penang” untuk Gerakan #TheWorldWeWant

    Membangun Gerakan #TheWorldWeWant atau dunia yang kita inginkan yang diprakarsai Climate Action Network International sekian tahun ini, bagi sebagian orang mungkin terdengar terlalu utopis. Tetapi bagi para aktivis iklim dan lingkungan, ini adalah sebuah visi yang selalu berhasil memantik semangan dan memberi dorongan energi besar saat lelah mental mendera. Termasuk bagi Climate Reality Indonesia yang menandatangani Kesepakatan Kerja Sama sejak…
    Read More
    Kedaulatan Pangan: Aksi Lokal untuk Solusi Iklim Global
    20 February

    Kedaulatan Pangan: Aksi Lokal untuk Solusi Iklim Global

    Catatan dari Kegiatan Urip nDeso #reguler Sekolah Pagesangan, 28-30 Desember 2023 Penulis: Arifah Handayani Sebagai Community Action Manager di Climate Reality Indonesia, dan aktivis yang telah bergerak lebih dari 13 tahun dalam upaya mengarusutamakan krisis iklim, saya baru benar-benar menyadari betapa rentannya sistem pangan negeri kita menghadapi ancaman krisis iklim. Hadir sebagai peserta dalam kegiatan Urip nDeso #reguler yang diselenggarakan…
    Read More
    Mock COP Policy Briefs 2023
    13 February

    Mock COP Policy Briefs 2023

    CLick here to access the full version Policy Brief 1 Policy Brief 2
    Read More
    Ketahanan dan Kesejahteraan Suku Baduy di Antara Ancaman Bencana Alam
    19 January

    Ketahanan dan Kesejahteraan Suku Baduy di Antara Ancaman Bencana Alam

    Indonesia, sebagai negara yang terletak di Cincin Api Pasifik, seringkali menjadi saksi berbagai bencana alam yang melibatkan gempa bumi, banjir, tanah longsor, dan letusan gunung api. Salah satu komunitas yang merasakan dampak langsung dari kejadian-kejadian ini adalah masyarakat Suku Baduy, yang tinggal di daerah yang terpencil di Provinsi Jawa Barat. Kehidupan mereka yang tradisional dan berpegang pada nilai-nilai adat, membuat…
    Read More

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    *

    *
    *

    logo